Mengenal Sensory Processing Disorder: Ketika Dunia Terasa Terlalu Banyak
Edukasi 26 April 2026 Super Admin

Mengenal Sensory Processing Disorder: Ketika Dunia Terasa Terlalu Banyak

Banyak anak dengan autisme juga mengalami Sensory Processing Disorder (SPD) — kondisi di mana otak kesulitan memproses dan merespons informasi yang diterima melalui indera. Memahami SPD dapat membantu orang tua dan pendidik menciptakan lingkungan yang lebih nyaman dan mendukung bagi anak.

Apa Itu Sensory Processing Disorder?

Sistem sensoris manusia mencakup tujuh indera: penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, perabaan, propriosepsi (kesadaran posisi tubuh), dan vestibular (keseimbangan). Pada anak dengan SPD, otak tidak memproses sinyal dari satu atau lebih indera ini dengan cara yang biasa, sehingga menyebabkan respons yang berlebihan (hypersensitive) atau kurang (hyposensitive).

Tanda-Tanda SPD yang Perlu Diperhatikan

Hypersensitive (terlalu sensitif):

  • Sangat terganggu oleh suara keras atau tiba-tiba (seperti suara blender atau tepuk tangan)
  • Menolak memakai pakaian tertentu karena teksturnya terasa tidak nyaman
  • Menghindari sentuhan fisik atau pelukan
  • Sangat sensitif terhadap cahaya terang

Hyposensitive (kurang sensitif):

  • Tidak merasakan sakit atau suhu ekstrem
  • Terus-menerus mencari stimulasi sensoris (berputar, melompat, menggigit benda)
  • Tidak menyadari ketika kotor atau basah

Bagaimana Terapi Okupasi Membantu?

Terapi okupasi, khususnya Sensory Integration Therapy, adalah pendekatan utama untuk menangani SPD. Terapis okupasi di Sahabat Autis Bogor menggunakan berbagai aktivitas dan peralatan khusus untuk membantu sistem sensoris anak bekerja lebih efisien dan terintegrasi.

Tips Menciptakan Lingkungan Sensoris yang Nyaman di Rumah

Orang tua dapat membantu dengan menciptakan "sensory diet" — serangkaian aktivitas sensoris yang terencana sepanjang hari. Konsultasikan dengan terapis okupasi anak Anda untuk mendapatkan rekomendasi yang sesuai dengan kebutuhan spesifik anak.